pemberitahuan

Thursday, October 12, 2017

Ujian Lima Sahabat

Cerpen Kiriman:  | Lolos Moderasi Pada: 11 October 2017
Musim panas telah merambah ke Kota Senja. Kelima sahabat itu perlahan mengelap keringat di dahi mereka masing-masing. Ah, tak ada yang lebih menyenangkan selain singgah ke Cafe Bang Didi, pikir mereka. Cafe itu menjual es krim yang sangat enak, » Baca lanjutan ceritanya...

Kusadari

Cerpen Kiriman:  | Lolos Moderasi Pada: 10 October 2017
Tersedu-sedu suaraku menyuarakan kesedihan, aku menangis hingga terkuras sudah semua linang air mata yang ada dalam sumur airmataku ini, tak henti-hentinya aku terisak membual dan menyumpah serapah orang yang telah memberikan penderitaan yang begitu kejam kepadaku, kuelus-elus kakiku yang » Baca lanjutan ceritanya...

Tetap Sahabat

Cerpen Kiriman:  | Lolos Moderasi Pada: 10 October 2017
Namaku Elsa aku adalah gadis dari keluarga biasa yang baru berusia 16 tahun. Aku bersekolah di salah satu SMA favorit yang berada di kotaku. Aku mempunyai sahabat bernama Rindu. Ia adalah gadis manis yang sangat baik hati. Namun, belakangan » Baca lanjutan ceritanya...

Genre Cintaku

Cerpen Kiriman:  | Lolos Moderasi Pada: 10 October 2017
Mataku tertutup sejenak menikmati suasana yang berulang di pagi itu, begitu penuh semangat, segala gairah pun berlomba di sekitar tubuh ini namun, tidak dengan hati ini yang sedari pagi telah layu bak bunga yang tak tersiram. Tiba-tiba mataku terbuka » Baca lanjutan ceritanya..

http://cerpenmu.com/category/cerpen-persahabatan

Friday, September 22, 2017

Fenomena Wang Ilang dan Diskriminasi Sosial Terhadap Lelaki Pariaman 24 April 13 | 23:49



Oleh : Asrul Khairi - Wang ilang atau kata lain dari uang jemputan adalah salah satu tradisi budaya di Piaman, biasanya calon mempelai perempuan memberikan atau mempelai lelaki meminta sejumlah uang sebagai wang hilang kepada calon mempelai perempuan. Kebiasaan ini konon kabarnya dimulai jauh semenjak zaman Bundo Kanduang hingga sekarang masih melekat kental dalam pembawaan budaya Nikah Kawin di Pariaman. Adakah produk ini telah menjadi adat dan budaya yang turun temurun “Adat Lamo, pusako Zaman, adaiknyo samo kito rimbunkan, pusakonyo samo kito gampakan”

Kebiasaan wang lang itu kini kian hari tumbuh dan berkembang menjadi sebuah jargon dalam prosesi pernikahan pada kebanyakan keluarga orang Piaman. Tumbuh dan mengakar sebagai warisan budaya, wangilang menjadi sosok prosesi yang fenomenal di tengah masyarakat pariaman, maupun yang berasal dari luar daerah pariaman. Sebab kenapa tidak, untuk menjemput atau memilih seorang lelaki di Pariaman sebagai calon suami mestilah keluarga perempuan harus menyiapkan uang untuk penjemput si calon mempelai lelaki dan jumlah uang itu biasanya dalam jumlah yang tidak sedikit nominalnya (berkisar di 1 jt – 100 an bahkan ada yang lebih).Na’udzubillahi minzalik.
Coba kita bayangkan, jika dilihat dari sisi pinansialnya, dengan jumlah jutaan itu sungguh sangat mahal makluk yang namanya lelaki di Piaman bagi seorang wanita yang punya suami. Disisi lain, apakah dengan jumlah uang sebanyak itu sudah patut label harga seorang anak manusia?
Sepintas, sungguh sangat enak jadi lelaki Pariaman, Jodoh dapat uangpun disikat. tapi ibarat dua sisi mata uang, justru keenakan itu mestilah dibayar mahal dengan anggapan miring dari pihak lain. Seorang lelaki di pariaman kalau saja tidak di jemput pakai wangilang merupakan aib yang sangat besar bagi silelaki, keluarga atau kaum beliau. Istilah ciloteh kadai “ Lai tukang baruak ba wangilang jo lai, konon ko awak lai tamakan bangku pendidikan” ( maaf tidak bermaksut merendahkan bidang pekerjaan tertentu/ dikutip dari ciloteh keseharian orang pariaman) .

Pada penerbitan perdana ini penulis sengaja mengangkat judul ini sebagai referensi dan pemikiran kita bersama untuk selektif dalam menerapkan budaya temurun. Setiap lelaki yang lahir dan dibesarkan di pariaman patut untuk mengetahui hal ini.
Tanpa bermaksud menyalahkan Produk turunan budaya wangilang dari hasil enkulturasi tetua kita zaman dahulu, penulis mencoba paparkan sebuah penomena yang terjadi di era kekinian terhadap keberadaan wangilang bagi lelaki pariaman.

Seorang Mahasiswa luar pariaman, pernah menuturkan pengalamanya kepada penulis simahasiswa kenal dengan seorang wanita yang berasal dari luar pariaman. Kedekatan kedua anak adam itukian hari bertambah kuat, sehingga diikrarkan kesepakatan diantara keduanya kearah hubungan yang serius. Tak pernah terbayangkan oleh sepasang sejoli bahwa cita-cita mereka justru kandah hanya karena hal yang tak mestinya terjadi.Ketika sigadis memperkenalkan pria pilihanya itu pada orang tuanya, kejujuran sang pria ketika memperkenalkan diri ternyata berbuah kekecewaan.
Identitas , asal usul berlabel Pariaman, spontan merubah suasana yang harmonis menjadi hambar, orang tua sang gadis berucap, “ ooohhh,ajo piaman yo, maha bali e mah ndak? Petaka cintapun muncul harapan menyunting pujaan hati sirna, cinta terhalang karena wangilang yang tidak sanggup dibayar oleh orang tua si wanita.

Jika persoalan wangilang dapat memutus tali cinta anak anak setiap Ibu terutama yang bereko tergolong ekonomi lemah atau kaum marginal di Pariaman, maka wajar seketika akan melahirkan anak perempuan, akan mengatakan “ ndeh, padusi pulo anak kito nan lahia.lah jadi baban lo untuak keluarga”. Bagi keluarga di Pariaman, perempuan adalah “baban barek, singguluang batu” yang harus diperjuangkan bersama oleh keluarga. 

Kenapa lahirnya anggapan demikian, karena setelah beliau besar nanti tentulah siwanita akan dicarikan jodohnya, sehingga tentunya tidak lepas dari wangilang yang harus dikeluarkan kepada calon suaminya kelak.
Dari kasus diatas, tampak jelas adanya diskriminasi dan apatisme sosial terhadap kaum lelaki di wilayah tertentu(khususnya Pariaman) di sisi pergaulan. Sehingga salah satunya, secara tidak langsung dikucilkan oleh tradisi budayanya sendiri terhadap pergaulan sosial dengan daerah lain.

Sisi lain, bila kita pandang dari sisi Agama, maka keluhan seorang ibu yang melahirkan seorang anak perempuan justrusangat tak disukai Allah karena ajaran Islam jelhttp://suarakomunitas.net/baca/57737/fenomena-wang-ilang-dan-diskriminasi-sosial-terhadap-lelaki-pariaman/as mengatakan bahwa “Anak adalah amanah dari Allah SWT”. Baik itu laki laki atau perempuan, karena anak adalahtitipan Allah yang mestinya di Syukuri keberadaannya.
Disisi moral & Sosial : begitu beratnya beban keluarga terhadap perempuan Pariaman untuk dicarikan jodohnya, Bia jan Gadih gadang Indak balaki, indak ameh bungkah di-asah, indak kayu janjang dikapiang, biasanya pihak keluarga perempuan berupaya sekuat mungkin mencarikan solusinya, salah satunya Mangadai Sawah Jo Ladang. Nah, ketika seluruh upaya tidak kunjung bisa diraih pihak keluarga menyarankan untuk siwanita mencari pasangan di luar Pariaman, agar tidak memikirkan wangilangnya.

Banyak lagi kefenomenalan prosesi wangilang di Pariaman ini yang melahirkan asumsi kearah yang kurang baik, sehingganya melahirkan Kasta – kasta tertentu yang membuat perbedaan yang semangkin nyata di tengah masyarakat.
Penulis yakin persoalan wangilang ditiadakan atau dilanjutkan akan melahirkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.Lantas,pada posisi mana seharusnya kita letakan ?Kiranya kepada pemangku kepentingan Adat dan Budaya Pariaman, mau membicarakan hal ini lebih serius lagi, tentunya untuk kebaikan pencitraan budaya Pariaman kedepannya, terutama kefenomenalan wangilang ini. 

Penulis dalam hal ini tidak bermaksud melenyapkan atau sebalik menjadikan prosesi wangilang menjadi bahagian dari ketetap adat yang harus dipatuhi oleh setiap anak nagari di ranah Pariaman saat ini, tapi lebih kepada mengajak untuk selektif “ patuik jo mungkin “ mengatur porsi besarannya, atau sistem peremajaannya. supaya tidak memberatkan bagi kalangan tertentu. Sebab bagai manapun prosesi wangilang ini adalah bahgian dari budaya yang perlu kita lestarikan bersama, “Adat Lamo, pusako Zaman, adaiknyo samo kito rimbunkan, pusakonyo samo kito gampakan” tentunya ini mestinya mengandung nilai keindahan & keunikan dimata orang lain, bukan sebaliknya mempenjarai golongan tertentu dimata masyarakat luar *
Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan (Cewek Wajib Baca di jamin nangis)
Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan (Cewek Wajib Baca di jamin nangis)
Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan (Cewek Wajib Baca di jamin nangis)
Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan (Cewek Wajib Baca di jamin nangis)
Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan (Cewek Wajib Baca di jamin nangis)
ok tanpa basa basi langsung saja simak di bawah ini, agak panjang yang sabar bacanya
Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan (Cewek Wajib Baca di jamin nangis)


”Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus”


Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkimpoianku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!.

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Itulah Cerita Nyata Yang sangat Sedih dan Mengharukan,
Semoga peristiwa ini bisa membuat kita belajar bersyukur dengan apa yang kita miliki,sebab :
Apa yang kita harapkan belum tentu kita dapatkan dan apa yang kita dapatkan belum tentu itu yang kita harapkan ,
Tapi Percayalah Tuhan pasti memberikan Kita yang terbaik (untuk/menurut kita dan untuk/menurut orang-orang yg kita cintai)
https://www.kaskus.co.id/thread/5598febb9a0951c17a8b456a/cerita-nyata-yang-sangat-sedih-dan-mengharukan-cewek-wajib-baca-di-jamin-nangis/

Thursday, September 21, 2017

Santai: Pantun Hari Jumaat

Santai: Pantun Hari Jumaat

Salam semua,

Hari ini ingin berkongsi dengan anda semua, beberapa pantun untuk santapan :)

isnin selasa dan rabu,
nama hari macam lagu,
hari yang paling ditunggu,
tentulah jumaat hari penghulu.

isnin tiba ramai tak suka,
selasa juga nasib serupa,
kalau jumaat menjelang tiba,
pasti ramai tersenyum gembira.

Anda Pengemar Coklat..cuba baca ini. 

seminggu ada tujuh hari,
setiap hari mood berbeza,
sudah lama kita menanti,
hari jumaat akhirnya tiba.

bila jumaat menjelang tiba,
pelbagai rancangan telah dicipta,
apa yang penting bagi saya,
esok sabtu kelas tetap ada.

Seperti ChurpChurp tapi lebih mudah

hari jumaat tetap ditunggu,
walaupun kelas setiap sabtu,
setelah penat bekerja seminggu,
jumaat tiba sangat membantu.

bila khamis menjelang tiba,
hati mula berbunga - bunga,
jumaat datang membawa gembira,
bermakna esok cuti menjelma.

hari jumaat sungguh mulia,
penghulu kepada hari yang lain,
jika masih ada yang suka,
akan ku pantun untuk kalian.

Hasil gambar untuk gambar jumat berkah










http://mylifemyprimaryplan.blogspot.co.id/

JASA TAK TERLUPAKAN


Puisi Patma

Ibu...
kau membingbingku selama satu tahun
kau begitu baik padakuwaluapun aku sukamarah-marah

Ibu....
kau begitu ceria dan rajin dari pada guru yang lain
ibu...
kau yang pintar,baik,ramah,cantik,dan sopan

Ibu...
kalau aku membuat salah tolong maafkan aku
karena aku cuma kesal karna aku selalu diejek

Ibu...
kalau aku lagi sedih kau menghibur aku
kalau aku lagi kesal kau menghiburku

Ibu... 
terimakasih atas jasa-jasamu jika aku 
masih sempat bertemu dengan ibu
aku sangat ingin memeluk ibu
Hasil gambar untuk gambar kartun kasih sayang ibu dan anak











http://eposlima.blogspot.co.id/2013/03/puisi-ibu-jasa-tak-terlupakan.html

fitri anisa